Kamis, 10 Maret 2016

Apa yang dimaksud migrasi penduduk ?


Migrasi Penduduk


Apa yang dimaksud migrasi penduduk?
Migrasi bisa diartikan dengan  perpindahan penduduk dari satu tempat (negara dan sebagainya) ke tempat (negara dan sebagainya) lain untuk menetap; perpin-dahan dari satu tempat ke tempat lain bagi burung dan sebagainya karena pergantian musim;
-- antardesa migrasi yang terjadi antara daerah pedesaan yang satu dan yang lain; 
-- antarkota migrasi yang terjadi antara daerah perkotaan yang satu dan yang lain; 
-- berantai perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah yang lain yang diikuti oleh penduduk daerah asalnya, terjadi apabila rombongan atau orang yang pertama berhasil dan menarik saudara, teman, atau tetangganya dari daerah asalnya; 
-- bermusim perpindahan penduduk yang terjadi dalam musim tertentu ke tempat tertentu dan kembali ke tempat asal dalam musim yang lain; 
-- desa kota migrasi yang terjadi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan; 
-- ekstern perpindahan penduduk ke wilayah negara lain; 
-- intern perpindahan penduduk yang berlangsung di dalam wilayah suatu negara; 
-- kota desa migrasi yang terjadi dari daerah perkotaan ke daerah pedesaan; 
-- paksaan migrasi yang dilakukan karena terpaksa, misalnya karena gangguan keamanan oleh gerombolan pengacau sehingga penduduk suatu daerah terpaksa pindah atau dipindahkan, baik oleh penguasa maupun sumber bahaya yang lain;

Migrasi Penduduk
Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas pendudukadalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas penduduk ada yang bersifat nonpermanen (sementara) misalnya turisme baik nasional maupun internasional, dan ada pula mobilitas penduduk permanen (menetap). Mobilitas penduduk permanen disebut migrasi. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan melewati batas negara atau batas administrasi dengan tujuan untuk menetap.

1. Jenis-jenis Migrasi
Migrasi dapat terjadi di dalam satu negara maupun antarnegara. Berdasarkan hal tersebut, migrasi dapat dibagi atas dua golongan yaitu :

Migrasi Internasional, yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lainnya.
Migrasi internasional dapat dibedakan atas tiga macam yaitu :

  1. Imigrasi, yaitu masuknya penduduk dari suatu negara ke negara lain dengan tujuan menetap. Orang yang melakukan imigrasi disebut imigran 
  2. Emigrasi, yaitu keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain. Orang yang melakukan emigrasi disebut emigrant 
  3. Remigrasi atau repatriasi, yaitu kembalinya imigran ke negara asalnya



Migrasi Nasional atau Internal, yaitu perpindahan penduduk di dalam satu negara. Migrasi nasional /internal terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut :
Urbanisasi, yaitu perpindahan dari desa ke kota dengan tujuan menetap. Terjadinya urbanisasi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut :

1. Ingin mencari pekerjaan, karena di kota lebih banyak lapangan kerja dan upahnya tinggi
2. Ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
3. Ingin mencari pengalaman di kota
4. Ingin lebih banyak mendapatkan hiburan dan sebagainya

Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari pulau yang padat penduduk ke pulau yang jarang penduduknya di dalam wilayah republik Indonesia. Transmigrasi pertama kali dilakukan di Indonesia pada tahun 1905 oleh pemerintah Belanda yang dikenal dengan nama kolonisasi. 

Berdasarkan pelaksanaannya, transmigrasi di Indonesia dapat dibedakan atas :
  1. Transmigrasi Umum, yaitu transmigrasi yang dilaksanakan dan dibiayai oleh pemerintah
  2. Transmigrasi Khusus, yaitu transmigrasi yang dilaksanakan degan tujuan tertentu, seperti penduduk yang terkena bencana alam dan daerah yang terkena pembangunan proyek 
  3. Transmigrasi Spontan (swakarsa), yaitu transmigrasi yang dilakukan oleh seseorang atas kemauan dan biaya sendiri 
  4. Transmigrasi Lokal, yaitu transmigrasi dari suatu daerah ke daerah yang lain dalam propinsi atau pulau yang sama
Ruralisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kota ke desa dengan tujuan menetap. Ruralisasi merupakan kebalikan dari urbanisasi.

Selain jenis migrasi yang disebutkan di atas, terdapat jenis migrasi yang disebut evakuasi. Evakuasi adalah perpindahan penduduk yang yang terjadi karena adanya ancaman akibat bahaya perang, bencana alam dan sebagainya. Evakuasi dapat bersifat nasional maupun internasional.

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Migrasi
Secara umum factor-faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi adalah sebagai berikut :

  1. Faktor ekonomi, yaitu ingin mencari kehidupan yang lebih baik di tempat yang baru 
  2. Faktor keselamatan, yaitu ingin menyelamatkan diri dari bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, banjir, gunung meletus dan bencana alam lainnya 
  3. Faktor keamanan, yaitu migrasi yang terjadi akibat adanya gangguan keamanan seperti peperangan, dan konflik antar kelompok 
  4. Faktor politik, yaitu migrasi yang terjadi oleh adanya perbedaan politik di antara warga masyarakat seperti RRC dan Uni Soviet (Rusia) yang berfaham komunis 
  5. Faktor agama, yaitu migrasi yang terjadi karena perbedaan agama, misalnya terjadi antara Pakistan dan India setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris 
  6. Faktor kepentingan pembangunan, yaitu migrasi yang terjadi karena daerahnya terkena proyek pembangunan seperti pembangunan bendungan untuk irigasi dan PLTA 
  7. Faktor pendidikan, yaitu migrasi yang terjadi karena ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

Dampak Migrasi Penduduk
Migrasi penduduk baik internal atau nasional maupun eksternal atau internasional masing-masing memiliki dampak positif dan negatif terhadap daerah asal maupun daerah tujuan.

a. Dampak Positif Migrasi Internasional antara lain :
Dampak Positif Imigrasi
1.      Dapat membantu memenuhi kekurangan tenaga ahli
2.      Adanya penanaman modal asing yang dapat mempercepat pembangunan
3.      Adanya pengenalan ilmu dan teknologi dapat mempercepat alih teknologi
4.      Dapat menambah rasa solidaritas antarbangsa
Dampak Positif Emigrasi
1.      Dapat menambah devisa bagi negara terutama dari penukaran mata uang asing
2.      Dapat mengurangi ketergantungan tenaga ahli dari luar negeri, terutama orang yang belajar ke luar negeri dan kembali ke negara asalnya
3.      Dapat memeperkenalkan kebudayaan ke bangsa lain


b. Dampak Positif Migrasi Nasional antara lain :
Dampak Positif Transmigrasi
1.      Dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama transmigran
2.      Dapat memenuhi kekurangan tenaga kerja di daerah tujuan transmigrasi
3.      Dapat mengurangi pengangguran bagi daerah yang padat penduduknya
4.      Dapat meningkatkan produksi pertanian seperti perluasan perkebunan kelapa sawit, karet, coklat dan lain-lain
5.      Dapat mempercepat pemerataan persebaran penduduk

Dampak Positif Urbanisasi
1.      Dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja di kota
2.      Mengurangi jumlah pengangguran di desa
3.      Meningkatkan taraf hidup penduduk desa
4.      Kesempatan membuka usaha-usaha baru di kota semakin luas
5.      Perekonomian di kota semakin berkembang

Dampak Negatif Migrasi Internasional antara lain :
Dampak Negatif Imigrasi
1.      Masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa
2.      Imigran yang masuk adakalanya di antara mereka memiliki tujuan yang kurang baik seperti
3.      pengedar narkoba, bertujuan politik, dan lain-lain.




Pengertian Budaya


BUDAYA

A.Pengertian Budaya

                 Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Pengertian Kebudayaan

            Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

3. Cara pandang terhadap kebudayaan
a. Kebudayaan Sebagai Peradaban
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.
Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature)
Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

b. Kebudayaan sebagai “sudut pandang umum”
Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria Hongariamengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”
Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.
Pada tahun 50-an, subkebudayaan kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.


B.Unsur-Unsur Kebudayaan

Koentjaraningrat (1985) menyebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan. Ia menyebutnya sebagai isi pokok kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah :
  1. Kesenian
  2. Sistem teknologi dan peralatan
  3. Sistem organisasi masyarakat
  4. Bahasa
  5. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
  6. Sistem pengetahuan
  7. Sistem religi
Pada jaman modern seperti ini budaya asli negara kita memang sudah mulai memudar, faktor dari budaya luar memang sangat mempengaruhi pertumbuhan kehidupan di negara kita ini. Contohnya saja anak muda jaman sekarang, mereka sangat antusias dan up to date untuk mengetahui juga mengikuti perkembangan kehidupan budaya luar negeri. Sebenarnya bukan hanya orang-orang tua saja yang harus mengenalkan dan melestarikan kebudayaan asli negara kita tetapi juga para anak muda harus senang dan mencintai kebudayaan asli negara sendiri. Banyak faktor juga yang menjelaskan soal 7 unsur budaya universal yaitu :
1.Kesenian 
Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan.
2.Sistem teknologi dan peralatan
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
3.Sistem organisasi masyarakat
Sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan masing – masing antar individu sehingga timbul rasa utuk berorganisasi dan bersatu.
4.Bahasa
Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia. Bahkan sudah ada bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris.
5.Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
6.Sistem pengetahuan
Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti.

 7.Sistem religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.

C.WUJUD KEBUDAYAAN 
  
 Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1.Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,nilai-nilai,norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
3.Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
D.FAKTOR YANG MENDORONG DAN MENGHAMBAT         PERUBAHAN KEBUDAYAAN
1.Mendorong Perubahan Kebudayaan
adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah,terutama unsur-unsur teknologi dan ekonomi.adanya individu-individu yang mudah menerima unsur-unsur perubahan kebudayaan terutama generasi muda.
2.Menghambat perubahan kebudayaan
adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah seperti : adat istiadat,dan keyakinan agama,adanya individu-individu yang sukar menerima unsur-unsur perubahan terutama generasi kolot.
  A. FAKTOR INTERNAL
*PERUBAHAN DEMOGRAFIS
perubahan demografis disuatu daerah biasanya cenderung terus bertambah,akan mengakibatkan terjadinya perubahan diberbagai sektor kehidupan,contohnya : bidang perekonomian, pertambahan peduduk akan persediaan kebutuhan pangan,sandang dan papan.
  • KONFLIK SOCIAL

konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan dalam suatu masyarakat,contohnya : konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan penduduk setempat didaerah transmigrasi,untuk mengatasinya pemerintah mengikutsertakan penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para transmigran.
  • *BENCANA ALAM

bencana alam yang menimpa masyarakat dapat mempengaruhi perubahan contohnya : banjir,bencana longsor,letusan gunung berapi masyarakat akan dievakuasi dan dipindahkan ketempat yang baru,disanalah mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat sehingga terjadi proses asimilisasi maupun alkuturasi.
  • PERUBAHAN LINGKUNGAN ALAM

ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai yang membentuk delta,rusaknya hutan karena erosi,perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan setempat.
B. FAKTOR EKSTERNA
  • PERDAGANGAN


indonesia terletak pada jalur perdagangan asia timur dengan india,timur tengah bahkan eropa barat,itulah sebabnya indonesia sebagai persinggahan pendagang pendagang besar,selain berdagang mereka juga memperkenalkan budaya mereka pada masyarakat setempat sehingga terjadilah perubahan budaya.
  • PENYEBARAN AGAMA

masuknya unsur-unsur agama hindu dari india atau budaya arab bersamaan proses penyebaran agama hindu dan islam ke indonesia demikian pula masuknya unsur-unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama kristen dan kalonialisme.
  • PEPERANGAN

kedatangan bangsa barat ke indonesia umumnya menimbulkan perlawanan keras dalam bentuk peperangan,dalam suasana tersebut ikut masuk pula unsur unsur budaya bangsa asing ke indonesia.

Makalah Gepeng dan Perempuan Malam

MAKALAH 
Gembel dan Pengemis (GEPENG) dan Perempuan Malam 






Di Susun Oleh :
Farah Diba Az-Zahra      (52415481)



Teknik Informatika
Universitas Gunadarma
2016






                                                 
KATA PENGANTAR

            Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan islam kepada kita, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga,sahabat dan kita sebagai generasi penerusnya hingga akhir zaman.Penyusunan makalah ini bertujuan untuk.
Mengangkat permasalahan - permasalahan tentang kehidupan sikap dan perilaku sosial kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung makalah ini.
Dengan menyelesaikan makalah ini ini, tidak jarang penyusun menemui kesulitan. Namun penyusun sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikannya, oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang membaca yang sifatnya membangun untuk dijadikan bahan masukan guna penulisan makalah yang akan datang sehingga menjadi lebih baik lagi. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.





                                                                                                                        PENYUSUN





                                                                                                                                               


Daftar Isi


Kata Pengantar.................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................................... 1
1.4 Manfaat Penulisan......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Gelandangan dan Pengemis.................................................... 2
a. Ciri-ciri Gelandangan dan Pengemis (GEPENG)……………….. 3
2.2 Pengertian Perempuan Malam………………….........................……….. 5
a. Pelacuran Menurut Agama………………………………………..6
b. Faktor-faktor pendukung perilaku seks pada remaja…………….7
 c. Ciri khas perempuan malam……………………………………..8
d. Faktor-faktor penyebab adanya perempuan malam/
PSK (pekerja seks komersial)……………………………………….9

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................... 10
3.2 Saran.............................................................................................................. 11
Daftar Pustaka...................................................................................................... 12






BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
            Pekerjaan GePeng dan perempuan malam di kalangan masyarakat cukup banyak digeluti berbagai manusia mulai dari kalangan anak anak , remaja , dewasa , hingga orang tua. Pekerjaan tersebut digeluti dan diminati karna cukup banyak menguntungkan untuk mendapatkan pundi – pundi rupiah, oleh karna itu mereka selalu bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan uang yang banyak agar dapat memenuhi tuntutan ekonomi kehidupan keluarga mereka masing – masing, sebenarnya mereka melakukan pekerjaan tersebut sangat amat terpaksa , karna mereka tau mereka bukan orang yang kaya , yang segala kebutuhannya berlebih, bukan juga orang yang berkehidupan mewah yang bisanya hanya berfoya – foya bersama teman atau keluarganya, bukan juga orang yang serba ada yang ingin ini itu langsung terpenuhi, mereka hanya GePeng dan prempuan malam yang kesehariannya yang selalu banting tulang untuk keluarga demi sesuap nasi, dikalangan Masyarakat GePeng dan prempuan malam selalu menjadi bahan perbincangan dan selalu dipandang sebelah mata oleh masyarakat setempat karna pekerjaannya yang tak layak untuk dikerjakan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja faktor yang mempengaruhi gelandangan dan pengemis (gepeng) dan perempuan malam ?
2. Bagaimana proses penanganan gelandangan dan pengemis dan perempuan malam ?

1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk menyelesaikan tugas Ilmu Sosial Dasar.
2. Untuk mengetahui masalah yang ada dijalanan.

1.4 Manfaat Penulisan
1. Bagi penulis, sebagai sarana menambah pengetahuan mengenai apa itu gepeng dan perempuan malam.
2. Bagi pembaca, sebagai sumber pengetahuan mengenai dunia politik selain buku-buku pelajaran lainnya
3. Sebagai gambaran dan acuan agar dapat lebih baik lagi dalam menyelesaikan makalah pada waktu yang akan datang.
                                                                                                                                                           



                                                                BAB II
PEMBAHASAN
         
2.1. PENGERTIAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS

1. Menurut Departemen Sosial R.I (1992), gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma-normakehidupan yang layak dalam masyarakat setempat serta tidakmempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu  dan hidup mengembara di tempat umum. “Pengemis” adalah orang-orang yang mendapat penghasilan dari meminta-minta di muka umumdengan berbagai alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang.
2. Menurut PP No. 31 Tahun 1980, Gelandangan adalah orang-orang yanghidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layakdalam masyarakat setempat serta tidak mempunyai pencaharian dantempat tinggal yang tetap serta hidup mengembara ditempat umum.Sedangkan Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkanpenghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagaicara dan alasan untuk mengharap belas kasihan orang lain.
3. Ali, dkk,. (1990) menyatakan bahwa gelandangan berasal darigelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana).Mengutip pendapat Wirosardjono maka Ali, dkk., (1990) jugamenyatakan bahwagelandangan merupakan lapisan sosial, ekonomidan budaya paling bawah dalam stratifikasimasyarakat kota. Denganstrata demikian maka gelandangan merupakan orang-orang yang tidakmempunyai tempat tinggal atau rumah dan pekerjaan yang tetap ataulayak, berkeliaran di dalam kota, makan-minum serta tidur di sembarangtempat.
4. Menurut Muthalib dan Sudjarwo dalam Ali, dkk., (1990) diberikan tigagambaran umum gelandangan, yaitu :
(1) sekelompok orang miskin ataudimiskinkan oleh masyaratnya,
(2) orang yang disingkirkan darikehidupan khalayak ramai, dan
(3) orang yang berpola hidup agarmampu bertahan dalam kemiskinan dan keterasingan.
5. Istilah gelandangan berasal dari kata gelandangan, yang artinya selaluberkeliaran atau tidak pernah              mempunyai tempat kediaman tetap(Suparlan, 1993 : 179). Pada umumnya para gelandangan adalah kaumurban yang berasal dari desa dan mencoba nasib dan peruntungannyadi kota, namun tidak didukung oleh tingkat pendidikan yang cukup,keahlian pengetahuan spesialisasi dan tidak mempunyai modal uang.Sebagai akibatnya, mereka bekerja serabutan dan tidak tetap,terutamanya di sektor informal, semisal pemulung, pengamen danpengemis. Weinberg (1970 : 143-144) menggambarkan bagaimanagelandangan dan pengemis yang masuk dalam kategori orang miskin diperkotaan sering mengalami praktek diskriminasi dan pemberian stigmayang negatif. Dalam kaitannya dengan ini, Rubington & Weinberg (1995: 220) menyebutkan bahwa pemberian stigma negatif justru menjauhkanorang pada kumpulan masyarakat normal.Dengan mengutip definisi operasional Sensus Penduduk makagelandangan terbatas pada mereka yang tidak memiliki tempat tinggal yangtetap, atau tempat tinggal tetapnya tidak berada pada wilayah pencacahan.Karena wilayah pencacahan telah habis membagi tempat hunian rumahtinggal yang lazim maka yang dimaksud dengan gelandangan dalam hal iniadalah orang-orang yang bermukim pada daerah daerah bukan tempat tinggaltetapi merupakan konsentrasi hunian orang-orang seperti di bawah jembatan,kuburan, pinggiran sungai, emper took, sepanjang rel kereta api, taman,pasar, dan konsentrasi hunian gelandangan yang lain.Pengertian gelandangan tersebut memberikan pengertian bahwamereka termasuk golongan yang mempunyai kedudukan lebih terhormatdaripada pengemis. Gelandangan pada umumnya mempunyai pekerjaantetapi tidak memiliki tempat tinggal yang tetap (berpindah-pindah). Sebaliknyapengemis hanya mengharapkan belas kasihan orang lain serta tidak tertutupkemungkinan golongan ini mempunyai tempat tinggal yang tetap.Dengan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwaGelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuaidengan kehidupan normal yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidakmempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu danhidup mengembara di tempat umum serta mengganggu Ketertiban,Kebersihan dan Keindahan. Sedangkan Pengemis adalah orang-orang yangmendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharap belas kasihan dari orang lainserta mengganggu ketertiban umum.

a. Ciri-ciri Gelandangan dan Pengemis (GEPENG):

1. Tidak memiliki tempat tinggal.Kebanyakan dari gepeng dan pengemis ini tidak memiliki tempathunian atau tempat tinggal. Mereka biasa mengembara di tempatumum. Tidak memiliki tempat tinggal yang layak huni, seperti di bawahkolong jembatan, rel kereta api, gubuk liar di sepanjang sungai,emper toko dan lain-lain
2. Hidup di bawah garis kemiskinan.Para gepeng tidak memiliki penghasilan tetap yang bisa menjaminuntuk kehidupan mereka ke depan bahkan untuk sehari-hari merekaharus mengemis atau memulung untuk membeli makanan untukkehidupannya.
3. Hidup dengan penuh ketidakpastian.Para gepeng hidup mengelandang dan mengemis di setiap harinya.Kondisi ini sangat memprihatikan karena jika mereka sakit merekatidak bisa mendapat jaminan sosial seperti yang dimiliki oleh pegawainegeri yaitu ASKES untuk berobat dan lain lain.
4. Memakai baju yang compang camping.Gepeng biasanya tidak pernah menggunakan baju yang rapi atauberdasi melainkan baju yang kumal dan dekil.
5. Tidak memiliki pekerjaan tetap yang layak, seperti pencaripuntungrokok, penarik grobak.
6. Tuna etika, dalam arti saling tukar-menukar istri atau suami,kumpulkebo atau komersialisasi istri dan lain-lainnya.
7. Meminta-minta di tempat umum. Seperti terminal bus, stasiunkeretaapi, di rumah-rumah atau ditoko-toko.
8. Meminta-minta dengan cara berpura-pura atau sedikit memaksa,disertai dengan tutur kata yang manis dan ibah.Namun secara spesifik, Karakteristik Gepeng dapat dibagi menjadi :

A.  Karakteristik Gelandangan :

1. Anak sampai usia dewasa (laki-laki/perempuan) usia 18-59 tahun,tinggal di sembarang tempat dan hidup mengembara ataumenggelandang di tempat-tempat umum, biasanya di kota-kota besar.
2. Tidak mempunyai tanda pengenal atau identitas diri, berperilakukehidupan bebas/liar, terlepas dari norma kehidupan masyarakat padaumumnya.
3. Tidak mempunyai pekerjaan tetap, meminta-minta atau mengambilsisa makanan atau barang bekas.

B. Karakteristik Pengemis :

1. Anak sampai usia dewasa (laki-laki/perempuan) usia 18-59 tahun.
2. Meminta-minta di rumah-rumah penduduk, pertokoan, persimpangan jalan (lampu lalu lintas), pasar, tempat ibadah dan tempat umumlainnya.
3. Bertingkah laku untuk mendapatkan belas kasihan ; berpura-purasakit, merintih dan kadang-kadang mendoakan dengan bacaan-bacaan ayat suci, sumbangan untuk organisasi tertentu.
4. Biasanya mempunyai tempat tinggal tertentu atau tetap, membaurdengan penduduk pada umumnya.Menurut Soetjipto Wirosardjono mengatakan ciri-ciri dasar yangmelekat pada kelompok masyarakat yang dikatagorikan gelandangan
adalah:”mempunyai lingkungan pergaulan, norma dan aturan tersendiri yang
berbedadengan lapisan masyarakat yang lainnya, tidak memliki tempattinggal, pekerjaandan pendapatan yang layak dan wajar menurut yang berlakumemiliki sub kultur khas yang mengikat masyarakat tersebut.


2.2 Pengertian Perempuan Malam (PSK)

           Perempuan Malam adalah seseorang yang menjual jasanya untuk melakukan hubungan seksual demi uang. Di Indonesia Wanita Malam (pekerja seks komersial) sebagai pelaku wanita pemikat lelaki hidung belang untuk memuaskan nafsu birahinya. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan Wanita Malam itu sangat begitu buruk,  hina dan menjadi musuh masyarakat.Mereka kerap dihina, dicaci maki, bahkan jadi cemohan bagi semua orang yang benci terhadap mereka. Bila tertangkap aparat penegak ketertiban,mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka direhabilitasi dan diberikan penyuluhan. Pekerjaan Seks Komersial sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau, ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa.
Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity).

     a. Pelacuran Menurut Agama

          Pekerja seks komersial sangat diharamkan didalam setiap agama karena bisa merusak moral maupun mengakibatkan hal yang negatif.
Pandangan Agama Islam mengenai pelacuran
Pelacuran dalam Islam adalah haram hukumnya dan berdosa besar. Islam juga melarang berkahwin dengan pelacur:
Dalam hal ini ada suatu riwayat yang diceriterakan oleh Murtsid dari Abu Murtsid, bahwa dia minta izin kepada Nabi untuk kahwin dengan pelacur yang telah dimulainya perhubungan ini sejak zaman jahiliah, namanya: Anaq. Nabi tidak menjawabnya sehingga turunlah ayat yang berbunyi:
Lelaki tukang zina tidak (boleh) kahwin, melainkan dengan perempuan penzina dan musyrik, dan perempuan penzina tidak (boleh) kahwin,melainkan dengan lelaki penzina atau musyrik.Yang demikian diharamkan atas orang-orang mukmin.(Al-Quran Surah An-Nur:3) Kemudian baginda bacakan ayat tersebut dan berkata: "Jangan kamu kahwin dengan dia" (hadis riwayat Abu Daud,An-Nasa'i dan Tarmiz

Pandangan Agama Hindu
Dalam pandangan umat Hindu pelacuran sangat sangat dilarang, kerana dalam Hinduisme, tubuh wanita itu ibarat susu kehidupan bagi generasi berikutnya, mereka yang menjual dan membeli susu kehidupan dalam pandangan hindu hukumnya adalah kutukan seumur hidup. Dalam Veda(kitab agama Hindu) sendiri yang merupakan kitab suci umat hindu pelacuran disebutkan sebagai sesuatu yang selain dipantangkan juga akan mendapatkan kutukan sebanyak 7 keturunan.


Pandangan Agama Buddha
Dalam kitab suci agama Buddha, pelacuran jelas jelas dilarang kerana tidak sesuai dengan keinginan Buddha.

b. Faktor-faktor pendukung perilaku seks pada remaja
Pekerja seks komersial kebanyakan terjadi pada remaja yang diawali dengan terjadinya pergaulan kearah seks bebas. Dimana menurut para ahli, alasan seorang remaja melakukan seks adalah sebagai berikut:

1)       Tekanan yang datang dari teman pergaulannya
Lingkungan pergaulan yang dimasuki oleh seorang remaja dapat juga berpengaruh untuk menekan temannya yang belum melakukan hubungan seks. Bagi remaja tersebut tekanan dari teman-teman nya itu dirasakan lebih kuat dari pada yang didapat dari pacarnya sendiri.

2)      Adanya tekanan dari pacar
Karena kebutuhan seorang untuk mencintai dan dicintai, seseorang harus rela melakukan apa saja terhadap pasangannya, tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapinya.Dalam hal ini yang berperan bukan saja nafsu seksual, melainkan juga sikap memberontak terhadap orang tuanya. Remaja lebih membutuhkan suatu hubungan, penerimaan, rasa aman, dan harga diri selayaknya orang dewasa.

3) Rasa penasaran
Pada usia remaja, keingintahuannya begitu besar terhadap seks, apalagi jika teman-temannya mengatakan bahwa terasa nikmat, ditambah lagi adanya infomasi yang tidak terbatas masuknya, maka rasa penasaran tersebut semakin mendorong mereka untuk lebih jauh lagi melakukan berbagai macam percobaan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Faktor lainnya datang dari lingkungan keluarga.Bagi seorang remaja mungkin aturan yang diterapkan oleh kedua orang tuanya tidak dibuat berdasarkan kepentingan kedua belah pihak (orang tua dan anak), akibatnya remaja tersebut merasa tertekan sehingga ingin membebaskan diri dengan menunjukkan sikap sebagai pemberontak, yang salah satunya dalam masalah seks.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak di kehendaki, perlu ada perhatian dari kita bersama dengan cara memberikan informasi yang cukup mengenai pendidikan seks dan Pendidikan agama. Kalau tidak ada informasi dan pendidikan agama di khawatirkan remaja cendrung menyalah gunakan hasrat seksualnya tanpa kendali dan tanpa pencegahan sama sekali. semua menyedihkan, dan sekaligus berbahaya, hanya karena kurangnya tuntunan seksualitas yang merupakan bagian dari kemanusiaan kita sendiri.

 c. Ciri khas perempuan malam
Ada beberapa ciri khas seorang pelacur / Pekerja seks komersial:

1) Wanita, lawan pelacur adalah gigolo (pelacur pria)
2) Biasanya cantik, ayu, rupawan, manis, atraktif, menarik
3) Muda
4) Pakaian mencolok, beraneka warna, eksentrik
5) Teknik seksual mekanistik, cepat, tidak hadir secara psikis
6) Mobile
7) Biasanya berasal dari strata ekonomi dan social rendah, tidak mempunyai ketrampilan khusus, berpendidikan rendah. Sedangkan pelacur kelas tinggi biasanya berpendidikan tinggi, beroperasi secara amateur atau professional.
8) 60-80 % intelektual normal
9)Mereka memperlihatkan penampilan lahiriah seperti : wajah, rambut, pakaian, alat kosmetik, parfum yang merangsang.

d. Faktor-faktor penyebab adanya perempuan malam/PSK (pekerja seks komersial):

1.       Kemiskinan
Diantara alasan penting yang melatar belakangi adalah kemiskinan yang sering bersifat structural. Struktur kebijakan tidak memihak kepada kaum yang lemah sehingga yang miskin semakin miskin, sedangkan  yang kaya semakin menumpuk harta kekayaannya.
Kebutuhan yang semakin banyak  bagi seorang perempuan dan tekanan moral dari keluarga memaksa dia untuk mencari sebuah pekerjaan dengan penghasilan yang memuaskan sehingga pekerjaan yang harampun jadi pilihan mereka, karena kondisi kebutuhan materi yang menuntut.
2.       Kekerasan seksual
Penelitian menunjukkan banyak faktor penyebab perempuan menjadi PSKdiantaranya kekerasan seksual seperti perkosaan oleh bapak kandung, paman, guru dan sebagainya.
3.      Penipuan
Faktor lain yaitu,  penipuan dan pemaksaan dengan berkedok agen penyalur tenaga kerja. Kasus penjualan anak perempuan oleh orangtua sendiri pun juga kerap ditemui.
4.      Pornografi
Menurut definisi Undang-undang Anti Pornografi, pornografi adalah bentuk  ekspresi visual berupa gambar, tulisan, foto, film atau yang dipersamakan dengan film, video, tayangan atau media komunikasi lainnya yang sengaja dibuat untuk memperlihatkan secara terang-terangan atau tersamar kepada public alat vital dan bagian – bagian tubuh serta gerakan-gerakan erotis yang menonjolkan sensualitas dan seksualitas, serta segala bentuk perilaku seksual dan hubungan seks manusia yang patut diduga menimbulkan rangsangan nafsu birahi pada orang lain.



BAB III
PENUTUP


3.1.Kesimpulan
           Perilaku menggepeng erat kaitannya dengan urbanisasi, dan urbanisasi erat kaitannya dengan adanya kesenjangan pembangunan wilayahpedesaan dan perkotaan. Semasih adanya kesenjangan ini maka urbanisasiakan sulit dibendung dan akan memberi peluang munculnya kegiatan sectorinformal seperti kegiatan menggepeng.Pada hakikatnya tidak ada norma social yang mengatur perilakumenggepeng. Kegiatan menggepeng umumnya dilakukan ibu-ibu yangdisertai dengan anak-anaknya. Mereka umumnya relative muda dan termasukdalam tenaga kerja yang produktif.Pendidikan keluarga gepeng pada umumnya rendah. Ini disebabkankarena susahnya masyarakat miskin dalam mengakses pendidikan, jugatermasuk karena anak usia sekolah terpaksa menggelandang dan mengemisuntuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akhirnya kebodohan dan kemiskinanpun seakan menjadi sebuah turunan pada keluarga tersebut. Adanya peran aktif dari berbagai kalangan dalam hal ini dalampengentasan kemiskinan dan juga masalah Gelandangan dan pengemis ini. 
Ada beberapa langkah yang mungkin dapat diterapkan antara lain adalahtetap menertibkan para Gelandangan-gelandangan dan Pengemis tersebutdan berusaha untuk mengembalikan ke kampung halamannya. Berikutnyaadalah mengembangkan usaha-usaha dari desa asal agar tidak terulangpermasalahan tersebut, atau dalam kata lain tidak membuat semacamketimpangan pembangunan antara kota dan desa.pemenuhan kebutuhan spiritual untuk memelihara sikap idealis yangtelah ada di masyarakat.

3.2 Saran
          Saran melihat sisi kehidupan manusia jaman sekarang semakin tak bisa di kendalikan dan semakin tahun semakin tidak stabil , oleh karna itu kita sebagai manusia harus dibentuk sejak dini untuk menjadi manusia yang selalu ingin hidup sukses dan bekerja keras jika kelak kita ingin mencapai tujuan yang kita inginkan, jangan lah kita menjadi pengemis dan perempuan malam , masih banyak pekerjaan yang lebih baik dari itu yang hasilnya cukup utnuk makan atau cukup untuk kehidupan sehari – hari , intinya jadilah manusia yang multi talent supaya kita dapat tejun langsung ketemapt yang sesuai dengan talent kita masing – masing supaya mendapatkan rejeki yang halal .





DAFTAR PUSTAKA